Showing posts with label solo. Show all posts
Showing posts with label solo. Show all posts

Thursday, September 30, 2010

Revisiting Kanjeng Wir




Kanjeng Wir (I just call him Mbah Wir), 74 year old man still looks dashing and sprightly. He is the costume maker for 8 Solo’s soldier teams and serves Solo Palace for almost 48 years.



His first name is Sukarno. He has seven names before finally bears the name Kanjeng Raden Ario Tumenggung Wiranto Diningrat as his fifth title. This title is a trust from the Sinuhun Pakubuwono 12 (King of Solo) who appointed him as commander of the 189 soldiers. Due his illness, he didn’t visit Palace in this Ied Fitr.

Kanjeng Wir has three grandchildren from her the one and only daughter Retno Kusrini. The older one named Devy (17th) who willing to learn about culture from him. A request was said by her during my visit on the third day of Lebaran.



Endang Sadimi is the busiest person during Lebaran. Except preparing the house, she also must be quick to remind her husband to drink medicine, take a rest and choose recommended foods.

Loyalty as a Commander of the Soldiers put him on a big responsibility. Although he no longer able to come to Palace every day like a procession of Eid Fitr Grebeg, everyone can still learn by visiting him.

Solo, 12 September 2010. Trip with Wibowo Wibisono

Monday, June 29, 2009

Bertemu Panji, Kelana dan Gechul di Solo Batik Carnival 2




Memasuki tahun penyelenggaraan kedua, Solo Batik Carnival kembali digelar oleh Pemerintah Kota Solo 26-28 Juni 2009. Tema kali ini adalah topeng dengan mengeksplorasi kain batik pada aneka karakter yang diciptakan. Setidaknya tahun ini, terdapat 3 karakter yang kemudian disebut kelompok yaitu Panji, Kelana dan Gechul. Panji adalah digambarkan sebagai karater raja yang berwibawa atau ratu yang kemayu. Ksatria yang gagah dan garang adalah bagi peserta yang termasuk kelompok Kelana. Sedangkan kelompok terakhir adalah Gechul, si Jenaka yang penuh tawa. Meski tidak semua peserta seekspresif karakter yang dimunculkan. Bisa jadi peserta mengalami kelelahan karena acara yang molor dari jadwal.

Kesungguhan Pemerintah Kota Solo dalam menginisiasi acara seperti adalah hal yang patut dicontoh oleh kota-kota lain, tak terkecuali Yogyakarta. Kehadiran Wali Kota Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan pengarahan langsung untuk kru panggung 3 jam sebelum acara dimulai juga menjadi point plus yang dicatat masyarakat.

Meskipun demikian, SBC2 masih membutuhkan perbaikan disana-sini seperti pengaturan panitia, penonton dan juru gambar. Salah satu contohnya adalah banyaknya jumlah penonton yang merangsek maju hingga memenuhi jalan Slamet Riyadi sehingga membuat jalannya karnaval menjadi tersendat. Maklum, 300 peserta membutuhkan ruang gerak yang lebar mengingat kostum yang dipakai dan koreografi yang dipersembahkan.

Monday, July 28, 2008

Tingalan Dalem Jumenengan SINUHUN Pakubuwono XIII.

Start:     Jul 29, '08 05:00a
Location:     Kraton Surakarta
Tingalan Dalem Jumenengan memperingati naik tahta SINUHUN Pakubuwono XIII.

ps buat yg bisa motret dan jalan2 ke Solo: sepertinya akan ada pawai besar, wisudan abdi dalem, pentas tari bedoyo dan wayang orang dengan pemain putro wayah di sriwedari (28-29 Juli 2008)

Sunday, July 20, 2008

Belajar [lagi] Pada Kanjeng Wir; Sebuah Dokumentasi




“Wah, ngepasi tenan, pun ket winggi Kakung kenken kulo ngebel Mbak Fitri,” ucap mbak Kus, putri Kanjeng Wir saat saya muncul dibalik pintu rumah mereka. Rupanya sudah dari bulan lalu, Kanjeng Wir meminta Mbak Kus untuk menelepon saya. Kata beliau, ada beberapa acara yang pasti akan saya senangi.

Segera Ibuk, begitu saya menyebut istri Kanjeng Wir, memanggil Kakung yang ada di bengkel kerja di loteng rumah. “Kung, wonten Mbak Fitri,” teriaknya. Tak lama, Kanjeng Wir atau Kakung turun dan menemui kami di ruang tamu. Ada yang berbeda dengan Kakung. Badannya tampak kurus dan pipi tirus. Sudah hampir sebulan Kakung menjalani perawatan jalan karena pembengkakan jantung yang dialaminya. Hampir satu bulan pula beliau tidak ke Keraton. “Nembe tindak menawi dipun dawuhi Sinuhun,” jelas Kakung.

Namun, sifat dan kebiaasannya yang lain tetap sama. Saat saya datang Kakung bercerita tentang banyak hal, salah satunya tentang tekadnya yang bulat untuk meyelesaikan 60 stel seragam Prawiroutomo. Prajurit ini adalah satu dari cita-cita Kakung yang ingin mengeksiskan lagi kesatuan yang dulu pernah ada. Hanya bayonet yang dipesan dari luar, selebihnya dikerjakan sendiri oleh Kakung. Maka tak heran bila beliau kurang tidur dan berpengaruh pada kondisi fisiknya. Kakung hanya tidur selama 1 jam setiap harinya. Selebihnya, 23 jam beliau habiskan di bengkel untuk merampungkan 60 baju, aksesoris, topi dan pedang untuk prajurit paling tinggi di Kraton Solo ini.