Thursday, August 30, 2007
Wednesday, August 22, 2007
Wednesday, July 4, 2007
Cisca, You’re My First Best Friend Also
Hari ini saya terharu. Cisca Nurfiaini, teman satu TK, satu SD dan satu SMA yang dulu pernah saya buat menangis, menuliskan nama saya sebagai teman baik pertamanya di blognya. http://cisca_n.blogs.friendster.com/my_blog/
24. First best friend : Fitri (my kindergarten’s friend) dan satu sekolah lagi wkt SMU!
Duh, bahagianya ketika kita diingat orang.
Padahal, sebagai seorang sahabat, saya ini pernah kelewatan nakalnya. Cisca pernah nangis setelah saya tulis namanya dengan seorang kawan laki-laki dengan tambahan tanda “love” di pintu kamar mandi sekolah. Niat awalnya hanya iseng saja, tetapi tak disangka malah justru jadi perang dunia. Bukan perangnya saya , tapi antara mereka. Saya belum mengakui secara publik kalau itu perbuatan saya.
Maafkan saya ya..
Saya janji nggak ada nambah deretan orangy2 yang pernah saya buat nangis lagi..
Sudah tua sekarang,... sudah 22..
Virtual Friends of Me
Sembari menunggu hasil cetak foto di sebuah kedai digital langganan saya, terbitlah tulisan ini. Selintas muncul keheranan atas fenomena triwulanan saya. Ya, periodisasinya memang seperti itu, saban tiga bulan. Seperti layaknya masa percobaan bagi staff baru di tempat saya bekerja. Fenomena kemunculan pria-pria virtual yang senantiasa ajeg menjaga kontinuitas per telepon, per sms ataupun melalui chatting di Yahoo Messenger.
Mungkin benar adanya hingga suatu saat ketika diperjalanan menuju Klaten, Pak Poday yang terkenal pendiam pun akhirnya ambil suara. “Fit, apa nggak pusing kamu ?”, tanyanya. “Iya juga pak, leres, saya juga mumet kok”.
Mungkin kalimat berikut sedikit benar. Punya teman itu menyenangkan, tapi lebih menyenangkan lagi kalau wujudnya jelas. Tapi fenomenanya sekarang adalah terlalu banyak pria kasat mata yang mondar-mandir di hidup saya. Tapi, saya menikmatinya kok. Lagipula ukuran kualitas dari pertemanan dan persahabatan kan tidak semata hadir secara fisik. Tak jarang sapaan ringan mereka di sms membuat saya tersenyum. Dan teman itu ada dimana-mana.
Sofa Photo Talk Duta Wacana, 30 Juni 2007
Sunday, June 3, 2007
Saya Pengen Nari Lagi
Ayo jogetan ..yo.. ayo jogetan..
Pinggul di goyang yang.. digoyang digoyang..
Ayo gendingan.. yo .. ayo gendingan
Nyawang putune Gending Osing gerambyangan.
Badan terasa merinding setelah mendengar gending joget Osing yang diikuti gerakan 4 penari cilik. Tak sadar, kaki saya ikut bergerak saat memotret Didik Nini Thowok yang sore itu ngamen di depan gedung Agung. Saya seperti berputar ke masa 10 tahun yang lalu. Ya, di masa ketika saya masih bertengger di jajaran penari cilik andalannya Didik Nini Thowok. Tiba-tiba saya kangen menari lagi.
Tapi, lagi-lagi saya kembali tersenyum geli. Geli bila ingat badan yang sekarang melar dan menjurus tak berbentuk. Apa masih wangun (pantas –red) berkembe ria bila perut berlipat tiga.. Ah, selalu saja imajinasinya seallu bergerak bebas. Meskipun imajinasi liar tersebut sebenarnya pernah jadi kenyataan.
Kalau ingat zaman keemasan tatkala jadi penari, saya berhak untuk sedikit bangga. Dulu, hampir seluruh orang kampung paham bahwa Fitri itu pinter nari. Saya sempet kondang, meski hanya tingakt RT, RW dan Kampung. Maklum, hampir setiap acara Pitulasan (17an –red) ikut unjuk gigi dan ngamen di acara mantenan tetangga.
Bayaran pertama saya yaitu ketika nari di acara cerdas cermatnya TVRI Yogya bareng Tya. Bayarannya dibungkus amplop putih sejumlah 7.500 rupiah. Berhubung penarinya 2, jadi masing-masing dapat 3.750 rupiah. Terhitung moment itu, saya mulai bisa belajar cari uang.
Tapi, bayarannnya tidak melulu uang. Kadang ada yang mbayar pakai roti, peralatan sekolah, tas dan coklat. Dan pernah juga bayarannya ucapan terimakasih.