| Start: | Aug 7, '09 7:30p |
| Location: | Sungai Bedog, Studio Banjarmili Kradenan Gamping Sleman |
Friday, August 7, 2009
Bedog Art Festival
Thursday, August 6, 2009
Tenganan dan Pesona Tenun Pegringsingan
Puluhan kain tenun dipajang dengan digantung di langit-langit rumah. Tenun Gringsing, kain andalah Tenganan berdampingan dengan puluhan kain dari seluruh penjuru Indonesia, seperti tenun Sumbawa, batik Yogya dan Pashmina ala Saudi Arabia.
Ni Wayan Suratmi dan Komang (10th) menyambut saya dengan ramah di rumah yang sekaligus menjadi tempat kerja dan usaha. Sebuah tustel (alat tenun) ukuran kecil yang diletakkan diatas balai-balai kayu bersama mereka siang itu. Ia sedang menyelesaikan sebuah selendang Gringsing yang biasanya ditawarkan dengan harga 400 ribu rupiah.
”Kami sekarang hanya membuat selendang, karena gampang laku dan harganya terjangkau,” ucap Ni Suratmi. Mengingat proses pembuatan tenun Gringsing yang sangat rumit, terutama proses pewarnaan yang memakan waktu paling lama (2-3 tahun), harga kain ini menjadi mahal. Selain itu Tenun Gringsing juga dipercaya mengandung nilai magis. Kata geringsing berasal dan dua kata yaitu gering yang berarti “sakit” dan sing berarti “tidak”. Bila dipadukan akan dapat berarti tidak sakit dan diharapkan si pemakai terhindak dari segala penyakit.
Tenganan siang itu lengang. Maklum, setelah perayaan perang pandan 2 hari sebelumnya, beberapa warganya telah kembali lagi ke tempat tinggal yang berada di luar Tenganan. Beberapa lagi tengah bekerja. Saat Perang Pandan, Tenganan akan dipadati wisatawan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Sebagai salah satu desa kuno di Bali, atau biasanya disebut "Bali Aga", Tenganan Pegeringsing tumbuh menjadi desa tujuan wisata. Keramahan, aneka tenun ikat kaya warna dan tentu saja pesona desa Bali Aga akan membuat siapa saja betah berlama-lama disana.
Senja di Kedonganan
Saya ingin berjumpa dengan senja. Sebentar saja. Meniti indahnya cakrawala dan mega-mega yang berarak. Tapi senja kemarin hanya mampir sesaat. Dan camarpun tak terbang rendah.
Wednesday, August 5, 2009
Festival 5 Gunung
Puluhan pemuda bertelanjang kaki, berwajah garang dan berambut gimbal berjalan menuju sebuah halaman rumah di Mantran Wetan, Girirejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Mangelang. Datang dari dua lereng gunung, Merapi dan Merbabu, pemuda-pemuda ini datang untuk sebuah pertunjukan. Bukan untuk tawuran atau adu kesaktian.
Mereka adalah salah satu penampil yang akan mengisi Festival 5 Gunung ke VIII yang kali ini (26/7/09) diadakan di desa Mantran Wetan. Dengan mengambil tema ’’Cokro Manggilingan Jiwo’’ atau yang artinya refleksi atas dinamika kehidupan yang terus berputar seperti roda, acara ini penuh semangat kemandirian dan kerukunan masyarakat.
Wednesday, July 29, 2009
Mulat Sarira PKB 2009
Berbeda dari rute tahun-tahun sebelumnya, Pawai Pesta Kesenian Bali tahun 2009 yang berlangung pada tanggal 13 Juni 2009 dimulai dari lapangan Puputan Badung hingga Art Centre. Mengusung tema ”Mulat Sarira” atau dengan arti kembali ke jati diri pawai ini menjadi magnet bagi masyarakat Bali maupun wisatawan baik dari dalam dan luar negeri. Sebuah pawai dari rakyat untuk rakyat.
Menikmati Kumbasari Pagi
Saya betah berlama-lama disini. Kumbasari waktu pagi dan saya yang terduduk di trotoar seberang dokar yang terparkir dengan gagahnya. Membau bau tanah yang bercampur aroma bunga, sayur, keringat dan aneka aroma lainnya. Saya belajar satu hal bahwa dalam ramai ada sepi dan mungkin sedikit kehampaan. Meski tampak lalu lalang, ada sepi dalam riuhnya.
Monday, July 27, 2009
Mbah Soma dan Semangkuk Wedang Trampas
Usianya tak tagi muda, giginya pun sudah tanggal semuanya. Namun, fisiknya masih prima, kuat mendaki untuk bertani di lereng Gunung Andong. "Kulo tani, saben dinten obah", tuturnya sambil tersenyum.
Mbah Soma, 95th ini adalah salah satu warga tertua di dusun Mantran Wetan, Girirejo Ngablak Magelang. Seperti warga desa lainnya, setiap hari beliau meminum wedang trampas. Minuman ini berasal dari pucuk daun teh yang dijerang air panas.
Tapi, Mbah Soma punya cara lain meminun seduhan yang berwarna hijau muda ini. Ketika orang-orang menikmatinya dengan gula jawa, kakek 7 cicit ini meramunya dengan garam. Mungkin, selain kehidupan yang rukun di kaki bukit yang berhawa dingin, trampas juga menjadi salah satu obat sehat alami yang membuat beliau awet muda.
Subscribe to:
Posts (Atom)