"Tuwas adoh-adoh teko jebule banyune wis buthek". (Sudah jauh-jauh datang, ternyata airnya sudah pekat-red).
Ini sepengal ungkapan kekecewaan seorang nenek di sebuah parit di belakang Pabrik Gula Madukismo pada tanggal 21 September lalu. Beliau tidak tahu bahwa hari itu ada hari terakhir proses giling. Tidak ada lagi air yang ”kemebul” alias berasap dan menurut mereka beraroma seperti “wedang sere”.
Awal puasa lalu, ribuan warga berendam di saluran pembuangan limbah yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Tidak hanya orang tua, remaja dan anak-anakpun membuat sesak parit-parit yang tiba-tiba menjadi arena pemandian dadakan. Meski larangan telah diserukan oleh berbagai pihak, sugesti tetap juara mengalahkan hasil uji lab dari Balai Penelitian Kesehatan Lingkungan (BPKL) yang memang datang terlambat.