Showing posts with label panggung. Show all posts
Showing posts with label panggung. Show all posts

Thursday, May 28, 2009

Garibaba's Strange World Dunia Fantasmo Mozo-Mozo

Start:     Jun 7, '09 8:00p
Location:     Concert Hall - Taman Budaya Yogyakarta
Garibaba's Strange World adalah sebuah pertunjukan tari-teater dengan komposisi musik dan pemanggungan yang menceritakan kehidupan yang serba ganjil, belum pernah terlihat dan serba 'terbalik'.
Garibaba's Strange World menampilkan sejumlah seniman tari, teater, visual, dan musik dari Padang, Bandung, Solo dan Yogyakarta.

Karya & Sutradara : Hiroshi Koike
Penutur Cerita : Slamet Gundono

Informasi dan Reservasi:
Teater Garasi : Ratri (0274) 415844
Taman Budaya : (0274) 523512

Friday, September 12, 2008

Momotaro by Margasari




Momotarō (桃太郎) is a popular hero from Japanese folklore. His name literally means Peach Tarō; as Tarō is a common Japanese boy's name, it is often translated as Peach Boy. (wikipedia)

narasinya menyusul ya :D

ps: Nonton bareng Bapak di Societet Militer TBY. Taken with manual by Panasonic FZ30

Thursday, August 28, 2008

Yovie & The Nuno; saya justru bersenandung




Huhuhu..lagi-lagi remuk. Pertama saya masih “ajaran” dan cenderung sangat tidak sabar. Dan mungkin diperparah oleh ketidakfokusan saya pada hal yang hendak saya kejar. Entah, adalagi faktor X yang turut andil pada ketidakfokusan saya. Tiada lain tiada bukan adalah efek lapar ditambah putusnya urat malu dengan ikut-ikutan nyanyi (meski suaranya juga tak kalah remuk).

Oh ya, foto-foto ini saya persembahkan khusus pada dua orang kakak perempuan saya (semoga tidak malu punya adik ketemu gede seperti saya), Vivi dan Mumpuni. Semoga kelak jodohnya mirip-mirip seperti Dudi dan Dikta, dua lelaki yang kalian idolakan. Setidaknya kaos kakinya sama. Peace Nona-Nona...Hehehe...

Wednesday, August 27, 2008

Ari Lasso; an energetic night




Kini...usai sudah sgala penantian panjangku
Setelah temukanmu duhai kekasihku (baruku)

Upps, bukan maksud apa-apa. Saya lagi dipinjami kamera. Dan tentu saja masih ndak habis pikir, kok ya ada orang yang tega nian melepaskan kamera baru bin gres kenyes-kenyesnya buat saya. Ibarat motor, saya kedapuk "nganyari" atau test drive. Pokoknya diminta belajar sampai puas.

Tiba saatnya mencari acara yang bisa sekaligus untuk latihan memotret. Tapi, kesempatan ini malah jadi ketakutan baru buat ibu saya. Sampai-sampai saya tidak diijinkan pulang tengah malam naik motor sendiri saat Konser Ari Lasso ini. Dibanding kemungkinan anak perempuannya hilang (bisa pula ditambahi awalan meng-fit), beliau justru lebih khawatir keselamatan kamera yang statusnya NA alias "namung ampilan" ini. ”Mengko diterne kakangmu wae, soale dudu kameramu Nduk!” sarannya ketika saya pamitan.

ps: Manual dengan Canon 1000D EFS 18 – 55 mm IS
Berhubung, masih payah dalam metering lighting apalagi hasilnya jauh dari stage shootnya mas gede/lensahati, jadi silakan dikritik.

Wednesday, August 6, 2008

Deleilah; tak ingin pulang dari pesta




Teater Deleilah besutan Joned S menghadirkan cerita tentang perjuangan hidup 3 biduan cantik Happy, Rosi dan Luna di Cafe Metro. Cafe ini berarti banyak bagi perbaikan ekonomi dan status mereka di kalangan sesama waria. Happy, Rosi dan Luna menjadi primadona dan magnet untuk menarik pelanggan.

Konflik muncul ketika Metro terancam diubah menjadi bioskop dan memaksa ketiganya melakukan exit strategy. Happy memilih berkonsentrasi dengan paguyuban waria yang pelan-pelan bisa menjadi media advokasi paling mujarab dibanding LSM abal-abal. Luna hijrah ke Jakarta dan moncer sebagai perancang busana. Sedangkan Rosi tetap tinggal di Yogyakarta dengan tetap sebagai penyanyi tunggal.

Bagian yang paling menarik dari Teater Deleilah adalah potongan cerita flash back dari kehidupan masa lalu Happy, Rosi dan Luna. Skenario Puthut EA menggambarkan secara serius tentang pelecehan dan kekerasan yang dialami oleh ketiganya pada masa kecil dan remaja. Misalnya saja saat Happy remaja dipaksa untuk melakukan oral seks oleh laki-laki dewasa yang berdalih akan mengajarinya main Gitar. Dan bisa jadi, omongan-omongan tak cerdas yang ada selama ini terhadap kaum waria karena masyarakat tidak pernah mengetahui sebab akibat yang dialami.

ps: assignment for www.trulyjogja.com/over & shaking/taken with panasonic lumix FZ30/iso 400/manual/speed seper 10/bukaan besar/

http://www.trulyjogja.com/index.php?action=news.detail&cat_id=11&news_id=1406

Deleilah; Satu Jalan Meluruskan Stigma

Wis nyicil ayem mbak,” ujar Kusuma Ayu, sesaat di lobi Societet  Militer TBY Selasa malam (5/8). Ayu, selama 2 bulan terakhir ini menjelma menjadi sosok lain bernama Rosiana. Ia adalah pemeran utama pertunjukan ”Teater Deleilah; tak ingin pulang dari pesta” yang menjadi acara penutup Festival Kesenian Yogyakarta 2008.

 

Bersama 7 waria lainnya dan pemain teater muda kota Yogya, mereka menyajikan konsep yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebuah suguhan pentas teater dengan memadukan kebolehan dalam olah tubuh, akting dan olah vokal. Hal ini patut dibanggakan setelah hampir selama 3 tahun terakhir hanya terlibat di FKY adalah sebagai peserta pawai pembukaan dan mengisi panggung pasar seni dengan lomba karaoke dan fashion show. 2 acara yang sayangnya masih saja diselingi dengan suara-suara dan terikan tak cerdas dari para penonton.

 

Sesuai harapan banyak orang, pada pertunjukan perdana khusus untuk undangan dan media semalam, suara-suara tersebut tak lagi terdengar (tentu saja semoga juga tidak terdengar pada 2 malam berikutnya dan waktu-waktu kedepan-fit). Justru yang menggema adalah ucapan selamat atas kepiawaian mereka beraksi diatas panggung. Ayu menuturkan bahwa pentas kali ini memang dipersiapkan dengan matang. 2 bulan mereka giat berlatih. Keseriusan tersebut selain sebagai bentuk totalitas dalam berkesenian tetapi juga sebagai usaha advokasi pada kelompok transseksual. 

 

Semakin terbukanya masyarakat pada kaum waria melalui akses media dan advokasi memang menjadi jalan untuk meluruskan pandangan minor yang ada selama ini. Ayu mengatakan bahwa selama ini stigma di masyarakat adalah waria hanya bisa ada di jalanan alias cebongan. ”Sebenernya kita tuh juga punya potensi untuk akting dan nyanyi,”  jelas Ayu kemudian. 

 

Teater Deleilah besutan Joned Suryatmoko menghadirkan cerita tentang perjuangan hidup 3 biduan cantik Happy (diperankan oleh Arum Marischa), Rosi dan Luna (Maria Alda Novika) di Cafe Metro. Cafe ini berarti banyak bagi perbaikan ekonomi dan status mereka di kalangan sesama waria. Happy, Rosi dan Luna menjadi primadona dan magnet untuk menarik pelanggan.

 

Konflik muncul ketika Metro terancam diubah menjadi bioskop dan memaksa ketiganya melakukan exit strategy. Happy  memilih berkonsentrasi dengan paguyuban waria yang pelan-pelan bisa menjadi media advokasi paling mujarab dibanding LSM abal-abal. Luna hijrah ke Jakarta dan moncer sebagai perancang busana. Sedangkan Rosi tetap tinggal di Yogyakarta dengan tetap sebagai penyanyi tunggal.

 

Bagian yang paling menarik dari Teater Deleilah adalah potongan cerita flash back dari kehidupan masa lalu Happy, Rosi dan Luna. Skenario Puthut EA menggambarkan secara serius tentang pelecehan dan kekerasan yang dialami oleh ketiganya pada masa kecil dan remaja. Misalnya saja saat Happy remaja dipaksa untuk melakukan oral seks oleh laki-laki dewasa yang berdalih akan mengajarinya main Gitar. Dan bisa jadi, omongan-omongan tak cerdas yang ada selama ini terhadap kaum waria karena masyarakat tidak pernah mengetahui sebab akibat yang dialami. 

 

 

ps: fotonya menyusul/free pass with assignment for www.trulyjogja.com/dan saya sempat salah masuk gedung

 

Pentas ini wajib ditonton tgl 6 atau 7 Agustus 2008, real show pasti lebih seru dengan penonton yg banyak. Silahkan reservasi tiket agar tidak kehabisan di (0274) 587712.

 

Monday, July 21, 2008

Ramayana Ballet




Shinta sedang sedih. Ia terpisah dari Rama, sang ksatria pujaan hati yang pandai memanah. Rahwana berhasil menculiknya dengan bantuan Kala Mrica, rusa cantik yang penuh tipu muslihat.


ps: semoga bulan depan bisa kesini lagi dengan persiapan matang, setidak-tidaknya batere full charge dan pinjaman tripod.

Tuesday, June 17, 2008

Balet Semalam; Dance Work Rotterdam




Pertunjukan Balet dari Dance Works Roterdam bertabur tepukan riuh yang panjang serta decak kagum. Maklum, selain karena koreografi yang menawan, pertunjukan balet boleh dibilang langka untuk panggung kesenian Jogja. Tak heran bila concert hall Taman Budaya Yogyakarta 16 Juni 2008 lalu penuh dengan penonton. Seluruh kursi terisi dan tak sedikit yang berdiri. Seperti saya, sepertiga penontonnya pun duduk lesehan di deretan depan.

Suguhan tari kontemporer kemarin menjadi salah satu kegiatan dari program internasional Festival Kesenian Yogyakarta 2008 yang mengusung tema ”The Past is New”. 12 penari, lima diantaranya laki-laki, meyuguhkan 2 karya dengan gerak-gerak sulit yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Suguhan pertama adalah Mortal Coil karya Ton Simons, sang direktur artistik Dance Work Rotterdam, sedangkan “Lareigne” sebagai nomor kedua dibesut oleh Stephen Petronio asal New York City.


ps: dan saya masih butuh banyak belajar.. (bukan belajar balet, tapi motret balet)