Showing posts with label motret. Show all posts
Showing posts with label motret. Show all posts

Thursday, September 4, 2008

Diantara Tustel; Sebuah Ketekunan




Tidak seperti saya yang tergolong bukan perempuan telaten, dua ibu tetap tekun pada tustel.

ps: tustel adalah sebutan buat alat tenun bukan mesin.

Tuesday, September 2, 2008

Nyadran di Santren; Mengirim Doa dan Berbagi Berkat




Ratusan orang berbondong-bondong meninggalkan komplek masjid dan makam Krapyak dusun Santren desa Gunungpring Muntilan Sabtu (30/08). Sebaskom makanan berukuran tanggung yang terbungkus taplak dibawa untuk oleh-oleh rumah sebagai wujud berkat prosesi nyadran.

Nyadran oleh warga dusun Santren diselenggarakan pada hari Sabtu Kliwon di bulan Ruwah sebagai sebuah tradisi ziarah kubur sebelum memasuki bulan Ramadhan. Bagi warga Santren, ritual ini wajib dilakukan selain sebagai ajang silaturahmi juga sebagai bentuk “ngabekti” pada leluhur.

Pada ritual Nyadran, masing-masing warga Santren ataupun warga diluar Santren yang memiliki waris di makam Krapyak membawa makanan yang disebut “berkat”. Berkat yang dimaksud adalah 2 macam makanan yang nantinya akan dibagi pada seluruh peserta nyadran yaitu penganan tradisional atau jajan pasar dan nasi dengan lauk pauk lengkap.

Nyadran diawali dengan melakukan ziarah kubur di makam yang tepat berada di sebelah utara masjid. Kemudian setelah selesai berdoa, mereka langsung menuju komplek masjid untuk mengikuti ceramah dan tahlil. Tahap terakhir adalah saling membagi berkat yang sebelumnya telah dikumpulkan kepada panitia. Nyadran menjadi momentum penting saat warga Santren siap menjalankan Ibadan puasa.


Canon 1000D 18-55mm

ps: Terimakasih untuk seluruh Panitia Nyadran Santren dan om Tamsir untuk senyum yang terkembang dan 2 piring jajan pasar plus teh hangatnya.

Thursday, August 28, 2008

Futsal; Sial atau Spesial?




Inilah jadinya kalau seseorang yang sangat takut pada olahraga disuruh motret liga futsal. Ibarat kata “ra ono apik-apike blas”. Apalagi karena malah justru kena timpuk bola sebanyak dua kali. Semakin tidak mudeng. Pertanda apa ini?

Yovie & The Nuno; saya justru bersenandung




Huhuhu..lagi-lagi remuk. Pertama saya masih “ajaran” dan cenderung sangat tidak sabar. Dan mungkin diperparah oleh ketidakfokusan saya pada hal yang hendak saya kejar. Entah, adalagi faktor X yang turut andil pada ketidakfokusan saya. Tiada lain tiada bukan adalah efek lapar ditambah putusnya urat malu dengan ikut-ikutan nyanyi (meski suaranya juga tak kalah remuk).

Oh ya, foto-foto ini saya persembahkan khusus pada dua orang kakak perempuan saya (semoga tidak malu punya adik ketemu gede seperti saya), Vivi dan Mumpuni. Semoga kelak jodohnya mirip-mirip seperti Dudi dan Dikta, dua lelaki yang kalian idolakan. Setidaknya kaos kakinya sama. Peace Nona-Nona...Hehehe...

Wednesday, August 27, 2008

Ari Lasso; an energetic night




Kini...usai sudah sgala penantian panjangku
Setelah temukanmu duhai kekasihku (baruku)

Upps, bukan maksud apa-apa. Saya lagi dipinjami kamera. Dan tentu saja masih ndak habis pikir, kok ya ada orang yang tega nian melepaskan kamera baru bin gres kenyes-kenyesnya buat saya. Ibarat motor, saya kedapuk "nganyari" atau test drive. Pokoknya diminta belajar sampai puas.

Tiba saatnya mencari acara yang bisa sekaligus untuk latihan memotret. Tapi, kesempatan ini malah jadi ketakutan baru buat ibu saya. Sampai-sampai saya tidak diijinkan pulang tengah malam naik motor sendiri saat Konser Ari Lasso ini. Dibanding kemungkinan anak perempuannya hilang (bisa pula ditambahi awalan meng-fit), beliau justru lebih khawatir keselamatan kamera yang statusnya NA alias "namung ampilan" ini. ”Mengko diterne kakangmu wae, soale dudu kameramu Nduk!” sarannya ketika saya pamitan.

ps: Manual dengan Canon 1000D EFS 18 – 55 mm IS
Berhubung, masih payah dalam metering lighting apalagi hasilnya jauh dari stage shootnya mas gede/lensahati, jadi silakan dikritik.

Friday, August 8, 2008

Ketika Bidadari Menyapa Thea




“Pecah pamore !” teriak lantang Ibunda Thea diakhir prosesi siraman sambil membanting kendi. Wadah air dari tanah liat beruntai roncean melati itupun pecah dengan sukses. Pada saat bersamaan, ucap syukur bersahutan menemani senyum yang terkembang.

Menemani Thea saat prosesi Siraman dan Midodareni menjadi pengalaman lain yang juga mendebarkan. Terutama, saat sisi melankolis ingin ikut bermain. Dan ternyata saya berhasil untuk tak ikut-ikutan menangis ketika sungkeman berlangsung.

Wednesday, August 6, 2008

Deleilah; tak ingin pulang dari pesta




Teater Deleilah besutan Joned S menghadirkan cerita tentang perjuangan hidup 3 biduan cantik Happy, Rosi dan Luna di Cafe Metro. Cafe ini berarti banyak bagi perbaikan ekonomi dan status mereka di kalangan sesama waria. Happy, Rosi dan Luna menjadi primadona dan magnet untuk menarik pelanggan.

Konflik muncul ketika Metro terancam diubah menjadi bioskop dan memaksa ketiganya melakukan exit strategy. Happy memilih berkonsentrasi dengan paguyuban waria yang pelan-pelan bisa menjadi media advokasi paling mujarab dibanding LSM abal-abal. Luna hijrah ke Jakarta dan moncer sebagai perancang busana. Sedangkan Rosi tetap tinggal di Yogyakarta dengan tetap sebagai penyanyi tunggal.

Bagian yang paling menarik dari Teater Deleilah adalah potongan cerita flash back dari kehidupan masa lalu Happy, Rosi dan Luna. Skenario Puthut EA menggambarkan secara serius tentang pelecehan dan kekerasan yang dialami oleh ketiganya pada masa kecil dan remaja. Misalnya saja saat Happy remaja dipaksa untuk melakukan oral seks oleh laki-laki dewasa yang berdalih akan mengajarinya main Gitar. Dan bisa jadi, omongan-omongan tak cerdas yang ada selama ini terhadap kaum waria karena masyarakat tidak pernah mengetahui sebab akibat yang dialami.

ps: assignment for www.trulyjogja.com/over & shaking/taken with panasonic lumix FZ30/iso 400/manual/speed seper 10/bukaan besar/

http://www.trulyjogja.com/index.php?action=news.detail&cat_id=11&news_id=1406

Monday, August 4, 2008

Dan Ngengatpun Bisa Memilih




Pada bulir-bulir padi aku hinggap sesaat pagi ini. Aku lebih memilih pada sepetak sawah di selatan kota. Tidak seperti daerah kota yang bising dan penuh polusi udara. Ya, buatku wilayah ini yang masih menyisakan kesegaran meski kadang ada bau sangit dari asap pembakaran sekam di sentra pembuatan bata.

ps: Suatu pagi menjelajah Banguntapan Bantul bersama Nico R. Haryono. Resize only & taken with Canon EOS 400D digital & Lensa Tamronnya Denny.

Tuesday, July 22, 2008

OgiThea Wedding Ceremony

Start:     Aug 2, '08 07:00a
End:     Aug 3, '08
Location:     Kalasan & Kagama
The wedding will be commenced with several processions. In Friday, it will be started with siraman procession. In the evening, it will be continued with midodareni, a procession which is commonly believed as the moment when the bride waits for the fairies to give their beauty to her.

Akad nikah (the wedding vow) will be declared on 2 August 2008 in bride's home and the wedding ceremony will be held in the next day, 3rd August 2008. It will take place at Wisma Kagama Jogjakarta.

The wedding will be performed in Yogyakartan culture where the invitees may see directly the phases of procession(panggih,lempar suruh, kirab, kacar-kucur, dahar-daharan, rujak bubak kawak, & sungkeman procession. The groom and bride will wear Jangan Menir attire.


Wednesday, July 16, 2008

Belajar Menahan Napas




berhubungan belum ada tripod dan ISO pol mentoknya FZ30 hanya 400, saatnya berlatih dan belajar menahan napas.
...dan yang terjadi terjadilah..hehehe

Monday, July 14, 2008

Hari Pertama Sekolah; Nyolong Pethek




Senin kemarin, 14 Juli 2008 adalah hari yang bersejarah bagi brayat Marhaen 7. Setidaknya generasi ketiga kami yaitu Garda Bagus Damastra 15th, Nadia Amorrita 6th dan Danendra Daffa 4th memulai babagan cerita dengan sekolah barunya. Suatu pagi yang mendebarkan melihat raut muka yang tampak sedih dan tak bersemangat. Meski sudah dibujuk-bujuk untuk tersenyum tetap saja tak berhasil. “Aku ndak siap sekolah, males”, ujar Daffa dengan raut muka yang polos.

Surprise !!! Ternyata Daffa dan Nadia malah justru minta tidak ditunggu di hari pertama sekolahnya. Dan lebih mengejutkan lagi karena ia dengan sukses menyanyikan 2 buah lagu anak-anak. Bukan lagu milik D’massive atau The Changcuters. “Mbak, tadi Daffa pinter lho, wani nyanyi 2 lagu,” lapor Nadia setibanya saya dirumah.

Ya, kami sempat khawatir bahwa Daffa akan tertular kisah tak terlupakan namun sedikit memalukan plus membanggakan yang saya alami 18 tahun lalu. Ketika itu dengan super pede saya bernyanyi 2 lagu milik lagu Nike Ardilla dan Godbless diatas meja di hari pertama masuk TK. Saya masih ingat waktu itu Bu Djilah, guru TK saya sempat kaget sambil mengelus dada. Mungkin, saat itu beliau berpikir saya ini anak yang aneh. Maklum, selain rambut saya yang kribo, perilaku saya juga diluar kebiasaan anak TK lainnya. Ah, semuannya memang diluar perkiraan semula. Pokoke nyolong pethek.


ps: Maaf, lagi-lagi masih under.. huhuhu. All pictures taken manual with Canon EOS 400D – Tamron Macro Lens, pinjaman dari Denny Subroto Tarigan.

Thursday, June 19, 2008

Di sebuah Ladang Tebu di belakang Madukismo




Di ladang tebu tepat di belakang Madukismo ini saya dan Mas Doni bertemu Pak Rohmat, seorang penebas tebu lepas. Bapak berkaus orange ini sudah hampir setengah hari disengat matahari. Beliau dengan sekitar 30 orang kawannya datang dari Tretep Temanggung. Sebagian kecil dari mereka berasal dari Magelang.

Bulan Mei sampai September adalah bulan rejekinya para penebas tebu. Pak Rohmat misalnya, beliau datang dari Temanggung ke Madukismo untuk memperoleh upah kotor sekitar Rp. 500.000/bulan. Upah tersebut masih akan dipotong ongkos Temanggung Yogya pulang pergi Rp. 60.000, biaya makan dan rokok selama mburuh. “Keno nggo sangu sekolah anak,” ucapnya sambil tersenyum.

Sebagai penebas tebu, ada tiga hal yang menjadi kawan dekat para penebas ini. Mereka adalah getah yang menghitamkan tangan, lugut atau duri halus pada batang tebu dan panas yang membuat keringat semakin deras mengucur. Tak ada sarung tangan dan hanya sedikit yang beralas kaki. Mayoritas nyeker. ”Malah angel mbak, rakulino,” jawab mereka berbarengan saat saya tanya tentang sandal.

Pekerjaan ini, meskipun berat tetap menjadi primadona. Hampir 90% warga Tretep Temanggung usia 15 s/d 35 tahun bekerja sebagai penebas tebu. ”Nek tuwo ra kuat awakke, kudu rosa soale gaweanne abot,” ujar mereka sambil terus bekerja. Setelah mas panen usai, mereka kembali mencari pekerjaan lain seperti menjadi buruh bangunan & petani tembakau. Tak sedikit pula yang menganggur.

Jangan bayangkan ada sepiring camilan atau segelas teh nasgitel buat mereka. Saat haus menyergap, tersedia satu jerigen air teh dan air putih untuk bersama. Setidaknya, minuman tersebut harus cukup untuk 30 penebas, seorang mandor dan supir truk. Mereka menyebutnya dengan istilah “Teh Es”, meski sebenarnya hanya teh semi pahit tanpa butiran es sama sekali. Maklum, cuaca yang panas membuat seteguk teh dari jerigen dan ceret ini seolah-olah dingin.

Selain itu ada juga rokok dengan bau khas yang menyengat. Rokok para penebas memang bukan rokok filter dengan iklan yang berbiaya tinggi itu. Tapi rokok lintingan dengan ramuan khusus cengkeh, klembak dan kemenyan.

Tuesday, June 17, 2008

Balet Semalam; Dance Work Rotterdam




Pertunjukan Balet dari Dance Works Roterdam bertabur tepukan riuh yang panjang serta decak kagum. Maklum, selain karena koreografi yang menawan, pertunjukan balet boleh dibilang langka untuk panggung kesenian Jogja. Tak heran bila concert hall Taman Budaya Yogyakarta 16 Juni 2008 lalu penuh dengan penonton. Seluruh kursi terisi dan tak sedikit yang berdiri. Seperti saya, sepertiga penontonnya pun duduk lesehan di deretan depan.

Suguhan tari kontemporer kemarin menjadi salah satu kegiatan dari program internasional Festival Kesenian Yogyakarta 2008 yang mengusung tema ”The Past is New”. 12 penari, lima diantaranya laki-laki, meyuguhkan 2 karya dengan gerak-gerak sulit yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Suguhan pertama adalah Mortal Coil karya Ton Simons, sang direktur artistik Dance Work Rotterdam, sedangkan “Lareigne” sebagai nomor kedua dibesut oleh Stephen Petronio asal New York City.


ps: dan saya masih butuh banyak belajar.. (bukan belajar balet, tapi motret balet)

Sunday, June 15, 2008

Main Mata




Ini adalah aneka ekspresi mata para warga Nogosari yang sedang belajar tentang air, pada suatu siang di bulan Juni. Maafkah saya wahai para ibu dan bapak karena saya justru sedang belajar menangkap rasa dari balik lensa. Ada yang tegang, melongo, mengantuk, tampak antusias, tanpa ekspresi, binggung dan perasaan tenang. Sekali lagi, ini rasa versi saya. Tak bisa saya pungkiri pula bahwa kemungkinan besar hasilnya jauh dari pakem komposisi di ilmu fotografi.


All pictures taken with Panasonic FZ30, manual & program exposure mode, aspect ratio 3:2, without cropping.

Monday, June 9, 2008

Menanti Mentari di Banyubiru




Jam 3 pagi angkot warna kuning sudah menanti kami di depan hotel Tenteram Ambarawa. Dingin dan kelopak mata yang masih saja mengatup. 35 menit kami sampai di Banyubiru. Menyusur Bukit cinta yang pagi itu sangat gelap dengan bau bunga yang mau tidak mau tercium.

Friday, June 6, 2008

Indahnya Bila Semua Seperti Ini




Ibu berkerudung putih ini tampak antusias saat akan mulai difoto. Sesekali tawanya merekah meski terlihat sedikit malu-malu. Ia tampak cantik dengan baju kebesaran Cina warna merah jambu dengan hiasan kepala yang memantul sinar keperakan. Anggun.

Sam Poo Kong, 17 Mei 2008

Tuesday, May 27, 2008

Majemu'an




Majemu'an


Berpuluh-puluh tandan pisang ambon berjejer rapi dibalai dusun Karangkulon dan serambi masjid Sunan Cirebon Giriloyo petang kemarin. Aneka jajan pasar seperti lemper, arem-arem, tiwul ayu dan geplak ikut tersaji diatas piring-piring beling bermotif bunga. Sebotol minuman bersoda Sprite turut ambil bagian mengantikan sarsaparela yang kian jarang dipasaran.

Semua menanti doa dalam rangka tasyakuran dan bersih dusun di 3 padukuhan di desa Wukirsari Imogiri Bantul. Prosesi budaya ini oleh masyarakat Giriloyo, Cengkehan dan Karangkulon lebih sering disebut dengan Majemu'an, acara ucap syukur atas panen yang melimpah. Acara ini dimulai dengan doa di Masjid Karangkulon yang diikuti seluruh masyarakat dengan iringan shalawat. Syahdu ditengah remang malam.

Monday, May 26, 2008

Gang Baru & Kisah tentang Selendang Kehidupan




Beberapa wanita tua dan paruh baya hilir mudik di Gang Baru pagi itu. Melingkar di pundak lehernya selendang bermotif tumbar pecah yang warnanya telah memudar. Sesekali selendang itu dikibas-kibaskan kearah leher untuk mencari angin. Meski rambut telah digelung, keringat itu tetap saja membuat sumuk.

Mereka kemudian bergerombol sambil menunggu calon pelanggan. Ada yang duduk selonjor tak sedikit yang berdiri. Ada pula yang memilih menghadang di bibir gang sambil berkelakar dengan pengemudi becak atau berkeliling. Sebuah usaha penuh harap.

Setiap hari, berteman selembar selendang dan sebuah tenggok bambu mereka bekerja sebagai buruh gendong. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan kekuatan, kesabaran dan keuletan. Daya juang seliat benang-benang tumbar pecah. Pelajaran penting bahwa rejeki bukanlah suatu hal yang datang begitu saja dari langit.

Gang Baru Semarang, 18 Mei 2008

Friday, May 23, 2008

Maneqin-Maneqin Buntung Giauw Hien




Ini bermula dari rasa kagum saya pada jendela di sebuah rumah toko di Jalan Gajah Mada. Jendelanya berbentuk persegi dengan kaca patri yang terbuka keatas. Sejurus saya menghentikan langkah. “Berhenti sebentar ya, itu ada jendela lama,” pinta saya pada Yoppie, Ina dan Glend. Entah tiba-tiba mata saja tertuju pada etalase kaca dengan 4 buah boneka pajang, Bapak Ibu dan 2 anak. Sebuah toko kuno yang membuat saya ingin melangkah masuk.

Awalnya kami ragu untuk masuk. Tetapi, rasa penasaran dan hasrat memotret jauh lebih tinggi ketimbang rasa ngeri. “Udah masuk aja, ketimbang penasaran,” ujar Yoppie. Saat kaki kanan melangkah masuk, kami serentak berucap salam. “Permisi..” Pada saat itu pula 4 mannequin menatap lekat-lekat bersamaan dengan dengan datangnya sang empunya Toko, Cik Ana Santosa.

Beruntung, Cik Ana menyambut ramah. ”Ini wae, apik lho cocok mbek badanne situ,” ujarnya berpromosi sambil menyodorkan sebuah kemeja motif sulur pakis. Padahal mata saya justru sibuk melihat sekeliling toko yang menurut saya sangat orisinil. Serasa terlempar pada era 70an.

Semakin ke dalam dan kami pun segera menjelajah. Baju-baju yang dijual ditata dengan ala kadarnya. Bertumpuk pada meja kaca kayu jati yang berdebu tebal. Kami tatap lagi maneqin-maneqin itu. Tampak semakin menyeramkan setelah sadar bahwa anggota badan maneqin tersebut sudah tidak lengkap. Buntung di tangan, kaki, badan dan kepala. Belum lagi melonggok kamar pasnya. Kecil, tanpa lampu dengan cermin berjamur. “Ini beneran toko bukan sih ?” tanya kami dalam hati.

Koleksi baju yang dijualpun sangat menarik. Modelnya kuno dengan harga terjangkau (atau mungkin memang benar-benar kuno). Sepotong kemeja dibandrol 15 ribu rupiah. Sedangkan sepotong gaun tanpa lengan dilepas dengan harga 10 ribu rupiah. Tempat yang tepat untuk memborong wardrobe band seperti Sandalaras. Dan selain ajaib, toko yang berdiri sejak tahun 1983 ini adalah paket komplet. Selain baju, tersedia pula tas tangan wanita dan botol susu.

Bagi penggemar baju-baju vintage dengan nuansa yang orisinil, silahkan mengunjungi Cik Ana di Jalan Gajah Mada Semarang.